Bunda Lisda Tegaskan: Literasi Dimulai dari Meja Makan, Keluarga Kunci Utama Generasi Unggul Pessel.

  • Nov 06, 2025
  • Banta Fauzan

Infonagari.kim.id - Bunda Literasi Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Lisda Hendrajoni, memberikan penekanan kuat pada peran fundamental keluarga.

 

Hal ini disampaikannya dalam kegiatan bertajuk “Literasi Parenting: Menanamkan Budaya Literasi dalam Keluarga”.

 

Acara penting tersebut diselenggarakan pada hari Rabu (5/11/2025). Dalam pemaparannya yang inspiratif, Lisda menjelaskan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas.

 

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis di atas kertas. Tetapi, mencakup keterampilan berpikir kritis, memahami informasi yang kompleks, serta menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

 

“Literasi adalah fondasi utama untuk mencetak generasi unggul yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Lisda.

 

Menurut Lisda, pemahaman literasi harus diperluas sebagai kemampuan berpikir reflektif dan produktif. Kemampuan ini sangat penting dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang terus berubah.

 

Ia bahkan mengutip Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sebagai landasan penting. Undang-undang tersebut menegaskan perlunya literasi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat pembelajar sepanjang hayat.

 

Sinergi yang kuat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan. Sinergi ini harus melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan terutama, keluarga itu sendiri.

 

Lisda juga menyoroti peran strategis para pegiat literasi. Mereka, mulai dari Bunda Literasi di tingkat kabupaten hingga nagari, Duta Baca, hingga pengelola TBM, adalah motor penggerak minat baca masyarakat.

 

Lebih jauh, Lisda menekankan bahwa orangtua merupakan pendidik pertama dan paling berpengaruh.

 

Orangtua memiliki pengaruh besar terhadap minat baca dan kemampuan literasi yang akan dimiliki anak.

 

“Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat,” katanya, memberikan kunci penting.

 

Jika orangtua membiasakan membaca, maka kebiasaan positif itu akan tertanam kuat dalam diri anak.

 

Lisda mendorong orangtua untuk menciptakan rutinitas literasi sederhana di rumah.

 

Contoh rutinitas yang disarankan seperti membaca sebelum tidur, berdiskusi ringan, atau menulis catatan harian bersama anak.

 

Ia menilai, Literasi Parenting bukan sekadar kegiatan akademik belaka.

 

Melainkan, ia adalah proses emosional yang efektif dalam mempererat hubungan antara anggota keluarga.

 

Ia juga mengingatkan bahwa budaya literasi sejati tidak bisa dibangun dengan paksaan.

 

“Budaya membaca akan tumbuh jika dilakukan dengan rasa senang,” ucap Lisda.

 

Ketika literasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup keluarga, manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang.

 

Kemampuan literasi, selain berkontribusi pada prestasi akademik, juga sangat penting dalam pembentukan karakter, empati, dan kepekaan sosial anak.

 

Anak-anak dengan kemampuan literasi baik akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlak, dan adaptif.

 

Di akhir kegiatan, Lisda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat literasi di Kabupaten Pesisir Selatan.

 

“Mari jadikan literasi sebagai budaya hidup keluarga dan masyarakat, agar generasi mendatang tumbuh menjadi generasi literasi yang siap menghadapi masa depan,” tutupnya. (Zan)